Advertisement
← Kembali ke Daftar Artikel
Digital Marketing & Strategy2026-01-134 min read

Kenapa 90% Bisnis Gagal di Email Marketing — Padahal Tools Sudah Canggih?

Banyak bisnis sudah pakai tools email marketing mahal, tapi hasilnya tetap sepi. Masalahnya bukan di tools, tapi di cara berpikir dan strategi yang sering keliru sejak awal.

Kenapa 90% Bisnis Gagal di Email Marketing — Padahal Tools Sudah Canggih?

Email marketing sering disebut sebagai salah satu channel dengan ROI tertinggi dalam dunia digital marketing. Tapi anehnya, banyak bisnis justru merasa email marketing mereka “tidak jalan”.

Sudah pakai tools mahal, sudah bikin newsletter rutin, sudah kumpulin ribuan email—tapi open rate kecil, klik hampir nol, dan penjualan tidak bergerak.

Pertanyaannya: kalau tools sudah canggih, kenapa hasilnya tetap mengecewakan?

Masalahnya Bukan di Tools

Banyak orang mengira kegagalan email marketing terjadi karena mereka belum pakai tools yang “bagus”. Padahal, dalam banyak kasus, masalahnya justru ada di strategi dan cara berpikir.

Tools hanyalah alat. Ia tidak bisa memperbaiki pesan yang buruk, tidak bisa membuat konten yang membosankan jadi menarik, dan tidak bisa menyelamatkan strategi yang salah arah.

Kesalahan Pertama: Menganggap Email Itu Cuma Iklan

Banyak bisnis menggunakan email seperti papan iklan berjalan. Isinya selalu promo, diskon, dan ajakan beli tanpa henti.

Akibatnya, email terasa tidak manusiawi. Tidak ada cerita, tidak ada nilai, tidak ada alasan kenapa orang harus membuka email itu selain “karena ada diskon”.

Di titik ini, email bukan lagi media komunikasi, tapi gangguan digital.

Kesalahan Kedua: Semua Orang Dikirimi Pesan yang Sama

Email yang dikirim ke semua orang dengan isi yang sama biasanya gagal. Orang punya kebutuhan, minat, dan masalah yang berbeda.

Ketika pesan tidak relevan, orang tidak merasa itu ditujukan untuk mereka. Dan jika tidak relevan, mereka tidak akan membuka, apalagi membeli.

Kesalahan Ketiga: Konten Tidak Punya Cerita

Banyak email terasa seperti brosur digital: kaku, formal, dan penuh istilah jualan.

Padahal manusia tidak membeli karena spesifikasi. Mereka membeli karena cerita, emosi, dan rasa percaya.

Tanpa storytelling, email hanya jadi deretan kalimat yang cepat dilupakan.

Kesalahan Keempat: Tidak Pernah Belajar dari Data

Banyak bisnis mengirim email secara rutin, tapi tidak pernah benar-benar melihat data.

Mereka tidak tahu email mana yang paling banyak dibuka, kalimat mana yang paling banyak diklik, dan topik apa yang paling menarik.

Tanpa belajar dari data, email marketing berjalan seperti menebak-nebak dalam gelap.

Kenapa Ini Terjadi di Banyak Bisnis?

Karena banyak orang memulai email marketing dari sisi teknis: “pakai tools apa”, bukan dari sisi manusia: “cerita apa yang mau kita sampaikan”.

Mereka sibuk mempelajari fitur, tapi lupa memikirkan pesan.

Mereka fokus pada sistem, tapi lupa pada manusia di balik layar.

Email Marketing Itu Soal Cerita, Bukan Sekadar Kirim Email

Email yang bagus terasa seperti pesan pribadi, bukan iklan massal.

Ia berbicara dengan nada yang manusiawi, membahas masalah nyata, dan memberi solusi atau sudut pandang baru.

Ketika orang merasa “ini tentang saya”, barulah email punya kekuatan.

Di Sini Banyak Bisnis Mulai Tersandung

Menulis email yang enak dibaca bukan perkara mudah. Perlu ide, sudut pandang, dan alur cerita yang jelas.

Karena itulah banyak bisnis akhirnya menyerah dan kembali ke pola lama: kirim promo, tunggu hasil, kecewa, ulangi lagi.

Email Marketing Butuh Sistem Konten yang Kuat

Email yang berhasil biasanya lahir dari sistem konten yang rapi: ada perencanaan topik, ada variasi jenis email, dan ada alur cerita jangka panjang.

Bukan sekadar “hari ini kirim apa ya?”, tapi “minggu ini kita mau membangun cerita apa ke audiens”.

Di Sini Peran Tools Konten Jadi Penting

Bukan untuk menggantikan manusia, tapi untuk membantu manusia berpikir lebih cepat dan lebih rapi.

Tools seperti TokoBoost, misalnya, bisa membantu menyusun ide konten, draft tulisan, dan variasi gaya bahasa, supaya email tidak terasa monoton dan kering.

Dengan bantuan sistem konten yang baik, email marketing tidak lagi sekadar kirim pesan, tapi membangun hubungan.

Penutup: Yang Gagal Bukan Emailnya, Tapi Cara Kita Memakainya

Email marketing tidak mati. Yang sering mati adalah cara berpikir lama tentang email.

Selama email diperlakukan sebagai alat cerita dan hubungan, bukan sekadar alat jualan, ia akan selalu relevan.

Dan di era konten seperti sekarang, yang menang bukan yang punya tools paling mahal, tapi yang punya cerita paling kuat.

Relevan dengan topik ini?

Gunakan tools AI TokoBoost yang sesuai dengan kebutuhanmu.

Coba Semua Fitur TokoBoost 🚀
Advertisement
Coba Semua Fitur TokoBoost 🚀
Kenapa 90% Bisnis Gagal di Email Marketing — Padahal Tools Sudah Canggih? | TokoBoost Blog